Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Semburat Cinta Lily (Bagian 8)

Gambar
Semburat Cinta Lily (Bagian 8) Suatu hari saat Lily berjalan menyusuri jalanan berbatu (tlasahan) yang menghubungkan kampungnya dengan kampung sebelah ia terhenti di salah satu tiang listrik yang berdiri kokoh dengan sebuah kawat pancang yang tertanam di tengah sawah yang tergenang air. Si empunya sawah hendak menanam padi rupanya. Ia memandangi tiang listrik itu masih sama keadaannya seperti beberapa tahun yang lalu. Seketika air matanya berlinang. Ia mengenang masa itu. ........ Pagi itu sekolah Lily dan sekolah sebelahnya gempar. Seluruh siawa dan guru berhamburan tanpa bisa dicegah. Warga sekitar juga berhamburan mendekati tiang listrik itu. Bereka berdesakkan ingin melihat sesuatu tapi tetap menjaga jarak. Ada yang menangis ada pula yang berlari sambil menjinjing sebagian baju bawahnya serasa ingin segera bergegas melakukan sesuatu. Anak sekolah yang mendekat dihalau pergi. Sebagian menurut sebagian yang lain menyelinap diantara orang dewasa. Lily yang saat itu duduk di k...

Semburat Cinta Lily (Bagian 7)

Gambar
Semburat Cinta Lily (Bagian 7) Kecelakaan mobil minggu pagi ini telah menggemparkan kampung Lily. Para perempuan yang ada di sungai saat itu syock menyaksikan mobil yang terjun dengan penghuni yang menjerit histeris disambung jeritan mereka. Demikian pula Lily yang baru saja sampai di rumahnya yang tak jauh dari sungai. Ia terkejut mendengar jeritan demi jeritan. Ia keluar dan menyaksikan korban jiwa tergeletak di tepi sungai tertutup sepotong pelepah daun pisang. Rombongan  wisatawan telaga Sarangan harus naas di sungai kampung Lily. Tampaknya kendaraan mereka tidak beres atau mungkin sopir tidak tahu medan. Kampung Lily memililiki tanjakan dan turunan yang curam berkelok yang membahayakan. Beberapa bulan yang lalu juga ada bus yang terbang saat tak berhasil belok setelah menuruni turunan curam. Ia terjerembab di sawah dan membuat kepulan debu selayaknya bom. Alhamdulillah bus itu kosong, dan sopir selamat. Ia menyatakan bahwa saat akan memasukkan bus ke garasi juragan r...

Semburat Cinta Lily (Bagian 6)

Gambar
Pagi yang cerah di hari minggu mengajak setiap warganya beraktifitas melawan dingin. Telihat barisan perempuan desa menuruni jalan curam berbatu  timur jembatan menuju sungai dengan membawa ember baik digendong maupun dijinjing. Ternyata di sungai sudah banyak perempuan desa yang mendahului beraktifitas. Mayoritas mencuci, mandi keramas, anak-anak kecil berenang dan bermain air, ada pula yang mengosok badan, tangan, kaki dengan batu. Aktifitas yang menyenangkan di minggu pagi  di salah satu sisi jembatan. Sebagian yang lain dibagian bawah sedang duduk telanjang pantat yang di tenggelamkan ke dalam aliran air. (stttt...dengan buang air besar). Ditepi sungai ada sumber air yang tertampung dalam kolam buatan dari semen yang berlumut berada dibawah akar pohon beringin raksasa yang berjuntai dan menyebul mengelilingi kolam. Disana terlihat beberapa orang tengah membilas diri, yang lainnya mengisi jun (gerabah penampung air) untuk keperluan memasak. Ditrap bagian bawahnya ada p...

Semburat Cinta Lily (Bagian 5)

Gambar
Langit sore mulai gelap terdengar suara adzan yang tersambung iqomah mengiringi. Ada kebiasaan yang tidak biasa di kampung lembah Gunung Lawu yang mayoritas bermata pencaharian petani. Kesibukan mereka di pertanian membuat ta'mir masjid sekitar area pertanian membuat jadwal adzan ashar lebih sore. Alasannya jika adzan tepat waktu dimungkinkan masjid dan mushola akan kosong dari jamaahnya. Mereka baru semangat-semangatnya bercocok tanam, jika adzan awal kemungkinan akan sholat di gubuk sawah atau di atau pematang sawah atau di atas batu besar di sungai terdekat dan lanjut bercocok tanam lagi hingga gelap.  Jika adzan sore sekitar jam 17.00 langsung iqomah para petani langsung  beres-beres dan pulang. "Brukkkk" bunyi suara untaian seledri diturunkan dari gendongan "Panen Mbah...seledrinya ayu, sini ditimbang!" kata jurangan sayur yang biasa mengirimkan barang ke Madiun  sambil  memegangi timbangan gantung. Ibu Lily mengangkat seledri kemudian ditimbang. ...

Semburat Cinta Lily (Bagian 4)

Gambar
Sore makin merajuk menghembuskan semilir angin membelah hamparan sawah dengan aneka palawija. Petani di lembah gunung Lawu tidak menanam tanaman serupa. Mereka menanam sesuai selera dan perhitungan prediksi harga yang bagus saat musim panen kelak. Seperti yang dilakukan Bapak dan Ibu Lily yang menanam seledri karena perhitungannya panen saat banyak orang hajatan hingga permintaan pasar akan bagus dan kesediaan barang terbatas maka harganya kan makin melambung. Hasil penjualannya untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk nyumbang ( menghadiri hajatan dengan membawa barang kebutuhan pokok). "Ayo Li...bersihkan tangan dan kakimu disini" ajak ibu yang masih membersihkan diri di selokan saluran irigasi yang sengaja dibuat bendungan kecil agar airnya terkumpul seperti kolam untuk memudahkan pengambilan air. Selain itu untuk mencelup untaian seledri siap jual biar makin segar. Maklum tanaman seledri yang sudah dipetik mudah layu. Segera Lily membereskan perlengkapan dan membersih...

Semburat Cinta Lily (Bagian 3)

Gambar
Sore itu setelah mendengarkan drama radio Tutur Tinular Lily diajak ibunya menyambangi tanaman seledri di sawah. Dengan bekal embor (penyiram tanaman) Lily dan ibu bergegas ke sawah. "alhamdulillah nduk seledrinya tumbuh subur" kata ibu memulai pembicaraan "iya Bu...ini mau disiram sekarang?" tanya Lily. "sebentar...kita panen dulu dua batang terbawahnya...nanti dijual ke Bu Har tengah kampung. Lumayan ini harganya baru bagus" jawab ibu Ibu memangkas dua batang terbawah dari mekar tanaman seledri yang menggemaskan. Lily memperhatikannya kemudian mengikuti cara itu.Ia memegang batang seledri ia dorong kebawah lalu ke samping kanan kadang samping kiri hingga terlepas dari tanaman induknya. Sementara tangan kanan menggenggam seledri yang diperoleh tangan kanan terus mengambil batang seledri tiap tanaman secara berurutan. "Capek ya Bu....panas lagi" keluh Lily "Iya nduk...begini susah senangnya jadi petani, capek menyiapkan lahan penan...

Semburat Cinta Lily (Bagian 2)

Gambar
Satu contoh diantaranya adalah kisah cinta Winda dan Rama Winda yang teman sekelas saat SMP dan jago berbahasa Inggris sangat terobsesi pada Rama. Rama merespon biasa saja, sadar ia disukai ia tidak merespon dan menanggapi wajar selayaknya bintang dengan fans fanatiknya. Peristiwa tatkala Rama genap 17 tahun, saat Winda datang membawa kue tart yang  cantik untuk Rama. Saat istirahat berakhir Winda menyempatkan diri ke kelas Rama yang berjarak beberapa ruang dari kelas kami. Kabar yang berhasil disimpulkan adalah Rama menolak kue itu, Winda malu bukan kepalang dengan berlari ke kelas yang sedang aktif ber KBM. Ia menangis dan tiba-tiba rubuh-pingsan. Setelah dibawa ke UKS yang berada persis di  sebelah kelas kami Winda pelan-pelan mulai siuman, tidak sampai sepuluh menit kami mengurusnya, ia mengajak kami kembali ke kelas...dan kami lebih terkejut lagi karena iba-tiba ia ngakak...tertawa terbahak-bahak. Teman sekelas bingung dan ikut tertawa bahkan guru yang mengajar meng...

Semburat Cinta Lily (Bagian 1)

Gambar
Tidak terlalu teringat oleh Lily bagaimana awal ceritanya... yang jelas masuk SMA paling favorit di kota ini karena saran kakak keduanya yang juga sekolah di situ. Dasar anak kampung yang tidak mengerti apa-apa saat ada pendaftaran kolektif dari SMP asal ikut saja. Dan diantara hiruk pikuk anak-anak lulusan SMP melihat pengumuman penerimaan siswa baru Lily ikut nimbrung dan ya nomor pendaftaran Lily ada terpajang di situ. Setelah dilihat ya.. sudah berarti Lily harus sekolah di sini. Hidup yang Lily jalani datar saja. Banyak imajinasi ini itu tapi malu berbuat. Mau berbuat percuma, karena bagi Lily mimpi harus ditahan karena ketidak berdayaan ekonomi orangtua. Tapi ini ada untungnya, dengan empat bersaudara dan Lily satu-satunya anak perempuan tidak pernah menuntut ini dan itu. Semuanya berbasis harapan hati dan lantunan doa. Dikasih alhamdulillah, tidak dikasih ya.. mungkin besok dikasih. Karena itu Lily sangat menyayangi sekolah ini...yang penting ikuti alur..patuhi aturan ya...