Semburat Cinta Lily (Bagian 5)


Langit sore mulai gelap terdengar suara adzan yang tersambung iqomah mengiringi. Ada kebiasaan yang tidak biasa di kampung lembah Gunung Lawu yang mayoritas bermata pencaharian petani. Kesibukan mereka di pertanian membuat ta'mir masjid sekitar area pertanian membuat jadwal adzan ashar lebih sore. Alasannya jika adzan tepat waktu dimungkinkan masjid dan mushola akan kosong dari jamaahnya. Mereka baru semangat-semangatnya bercocok tanam, jika adzan awal kemungkinan akan sholat di gubuk sawah atau di atau pematang sawah atau di atas batu besar di sungai terdekat dan lanjut bercocok tanam lagi hingga gelap.  Jika adzan sore sekitar jam 17.00 langsung iqomah para petani langsung  beres-beres dan pulang.

"Brukkkk" bunyi suara untaian seledri diturunkan dari gendongan
"Panen Mbah...seledrinya ayu, sini ditimbang!" kata jurangan sayur yang biasa mengirimkan barang ke Madiun  sambil  memegangi timbangan gantung. Ibu Lily mengangkat seledri kemudian ditimbang.
"lima belas setengah Mbak" kata juragan
"alhamdulillah..." kata ibu Lily
Sedari tadi Lily memperhatikan ibunya dan juragan saling berinteraksi. Terlihat didepan rumah juragan berkarung-karung kubis siap kirim, tomat ranum yang menggemaskan, daun bawang yang segar berwarna hijau keabu-abuan, sawi yang segar bertumpuk dalam untaian. Senang melihat sayur-sayuran hasil panenan warga lembah Lawu ini. Bersyukur jadi anak petani yang kebutuhan kehari-harinya tercukupi dari hasil pertanian.

"Ini Mbah.... uangnya!" kata juragan sambil menyerahkan uang pecahan duapuluh ribuan cukup banyak. Harga satu kilogram seledri sampai duabelas ribu rupiah.
"Suwun yo Yu..." kata ibu pada juragan yang disambut senyuman dari juragan.
"Ayo Ly kita pulang..." ajak ibu
Tanpa menjawab Lily langsung bergegas mengikuti ibunya. Ibu dan Lily mempercepat langkahnya mengejar waktu untuk menunaikan sholay ashar yang sudah sangat terlambat.

Sesampai dirumah ibu mandi dan Lily membersihan diri kemudian sholat bergantian dengan ibu. Sebelum mandi Lily menyiapkan teh panas untuk keluarga dengan menyeduh teh pada teko yang sudah dimasukkan gula ke dalamnya.  Tinggal siapa yang mau menuangnya. Maklum saat ini cukup dingin jika langsung dituang akan lebih cepat dingin.

Adzan magrib terdengar setelah Lily selesai mandi. Segera ia dan keluarga pergi ke masjid bersama untuk menunaikan sholat magrib. Ibu dan bapak Lily terbiasa membaca Al Qur'an yang membuat Lily dan saudaranya mengikuti kebiasaan itu dilanjutkan makan malam bersama dengan menu yang seringkali sama dengan menu makanan sarapan dan makan siang, tinggal dihangatkan saja sayurnya. Meski demikian mereka tampak bahagia.

Makan malam hari ini berbeda karena  ada hantaran dari warga yang mengundang bapak Lily memimpin Dzikir pidhak (dzikir peringatan hari kematian). Nasi sebakul telur matang tiga butir ayam goreng sekitar seperempat bagian, mi goreng.
Hindangan dan nikmat dibagi tiap piring untuk berenam.

#30dwc
#30dwcjilid30
#squad2
#squad12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semburat Cinta Lily (Bagian 7)

Semburat Cinta Lily (Bagian 6)