Semburat Cinta Lily (Bagian 7)

Semburat Cinta Lily
(Bagian 7)
Kecelakaan mobil minggu pagi ini telah menggemparkan kampung Lily. Para perempuan yang ada di sungai saat itu syock menyaksikan mobil yang terjun dengan penghuni yang menjerit histeris disambung jeritan mereka. Demikian pula Lily yang baru saja sampai di rumahnya yang tak jauh dari sungai. Ia terkejut mendengar jeritan demi jeritan. Ia keluar dan menyaksikan korban jiwa tergeletak di tepi sungai tertutup sepotong pelepah daun pisang. Rombongan wisatawan telaga Sarangan harus naas di sungai kampung Lily. Tampaknya kendaraan mereka tidak beres atau mungkin sopir tidak tahu medan. Kampung Lily memililiki tanjakan dan turunan yang curam berkelok yang membahayakan.
Beberapa bulan yang lalu juga ada bus yang terbang saat tak berhasil belok setelah menuruni turunan curam. Ia terjerembab di sawah dan membuat kepulan debu selayaknya bom. Alhamdulillah bus itu kosong, dan sopir selamat. Ia menyatakan bahwa saat akan memasukkan bus ke garasi juragan rem blong dan terjadilah semuanya.
...........
Sore menjelang, aliran selokan depan rumah Lily mengalir deras. Ia ingat betul jika aliran rmderas ibunya segera mengambil ember dan membuat bendungan. Air bendungan selokan disiramkan dengan penuh semangat di sepanjang jalan aspal depan rumah Lily yang menghubungkan dua kecamatan. Kini Lily melakukannya seperti yang ibunya lakukan.
...........
Sore menjelang, aliran selokan depan rumah Lily mengalir deras. Ia ingat betul jika aliran rmderas ibunya segera mengambil ember dan membuat bendungan. Air bendungan selokan disiramkan dengan penuh semangat di sepanjang jalan aspal depan rumah Lily yang menghubungkan dua kecamatan. Kini Lily melakukannya seperti yang ibunya lakukan.
"Mbak Lily rajin sekali ya....jadi seger jalanan ini" seru pejalan kaki yang sudah Lily kenal.
"Matur nuwun Mbokde..." jawaban andalan Lily setiap kali ada yang menyapanya.
Lily terus menyirami jalanan dan taman bunga serta halanan semen depan rumahnya. Ia tak mau menyiakan limpahan air selokan demi segarnya pemandangan depan rumah yang tiap hari ramai lalu lalang kendaraan.
Sementara di seberang jembatan tampak banyak anak laki-laki yang nongkrong di pos ronda. Sebagian lagi di ujung jembatan sambil menunggu giliran mandi di sungai bagian atas jembatan. Hampir tiap sore ini terjadi. Ini membuat Lily makin semangat "mejeng".
"Matur nuwun Mbokde..." jawaban andalan Lily setiap kali ada yang menyapanya.
Lily terus menyirami jalanan dan taman bunga serta halanan semen depan rumahnya. Ia tak mau menyiakan limpahan air selokan demi segarnya pemandangan depan rumah yang tiap hari ramai lalu lalang kendaraan.
Sementara di seberang jembatan tampak banyak anak laki-laki yang nongkrong di pos ronda. Sebagian lagi di ujung jembatan sambil menunggu giliran mandi di sungai bagian atas jembatan. Hampir tiap sore ini terjadi. Ini membuat Lily makin semangat "mejeng".
Warga kampung Lily masih kurang kesadaran dalam fasilitasi MCK. Mereka mengandalkan sungai untuk semuanya. Hanya beberapa orang terpandang, pamong desa, juragan atau pegawai negeri saja yang memiliki fasilitas kamar mandi dan WC. Saat musim hujan dn banjir maka bak air besar (blumbang) di depan depan masjid kampung yang jadi andalan. Meski air keruh tidak masalah sementara untuk air minum masih mngambil dari belik dan sebagian meminta air warga yang memiliki sumur atau PDAM (ngansu) dengan Jun, jerigen atau ember.
Sikap "narimo", berbagi dan kebersamaan ini membuat kampung Lily begitu damai. Meski sesekali ada kejadian-kejadian yang menggemparkan. Terkadang Lily mengingat kejadian itu bahkan saling bercerita antar teman maupun dengan orang dewasa pada suatu kesempatan. Kejadian warga yang tersengat listrik saat ia masih SD masih lekat dengan ingatannya.
Bersambung.....
Komentar
Posting Komentar