Semburat Cinta Lily (Bagian 8)

Semburat Cinta Lily
(Bagian 8)
Suatu hari saat Lily berjalan menyusuri jalanan berbatu (tlasahan) yang menghubungkan kampungnya dengan kampung sebelah ia terhenti di salah satu tiang listrik yang berdiri kokoh dengan sebuah kawat pancang yang tertanam di tengah sawah yang tergenang air. Si empunya sawah hendak menanam padi rupanya. Ia memandangi tiang listrik itu masih sama keadaannya seperti beberapa tahun yang lalu. Seketika air matanya berlinang. Ia mengenang masa itu.
........
Pagi itu sekolah Lily dan sekolah sebelahnya gempar. Seluruh siawa dan guru berhamburan tanpa bisa dicegah. Warga sekitar juga berhamburan mendekati tiang listrik itu. Bereka berdesakkan ingin melihat sesuatu tapi tetap menjaga jarak. Ada yang menangis ada pula yang berlari sambil menjinjing sebagian baju bawahnya serasa ingin segera bergegas melakukan sesuatu. Anak sekolah yang mendekat dihalau pergi. Sebagian menurut sebagian yang lain menyelinap diantara orang dewasa. Lily yang saat itu duduk di kelas V juga ikut menyelinap, ia penasaran meski juga ketakutan.
........
Pagi itu sekolah Lily dan sekolah sebelahnya gempar. Seluruh siawa dan guru berhamburan tanpa bisa dicegah. Warga sekitar juga berhamburan mendekati tiang listrik itu. Bereka berdesakkan ingin melihat sesuatu tapi tetap menjaga jarak. Ada yang menangis ada pula yang berlari sambil menjinjing sebagian baju bawahnya serasa ingin segera bergegas melakukan sesuatu. Anak sekolah yang mendekat dihalau pergi. Sebagian menurut sebagian yang lain menyelinap diantara orang dewasa. Lily yang saat itu duduk di kelas V juga ikut menyelinap, ia penasaran meski juga ketakutan.
Dari kejauhan dibalik kerumunan orang yang histeris ia melihat seseorang tengah tergeletak di pematang sawah dan masih kejang-kejang. Salah satu kakinya masuk di lumpur sawah yang dipersiapkan untuk menanam padi (ngkler-ngkleran). Sementara satu orang yang lainnya berkubang lumpur terdiam.
"Pakde...itu kenapa?" tanya Lily pada salah satu warga
"Itu orang kesetrum (tersengat) listrik Nduk.. Lho kamu kok disini. Sana ini berbahaya. Silahkan menjauh..! " usir orang itu pada Lily.
Lily menjauh tapi tetap memperhatikan kerumunan warga dan menyimak obrolan mereka. Dari sana ia tahu jika peristiwa itu bermula saat salah satu buruh tani itu mencangkul tanpa ia sadari mencabut kawat pancang listrik yang ternyata ada aliran listriknya. Ia terpental dan terjatuh masih memegang kawat itu seperti lengket di tangan. Salah satu buruh tani yang melihatnya berusaha menolong tapi iapun terpental ditempat yang masih teraliri listrik. Kedua orang itu tersengat listrik. Ternyata kedua orang itu masih saudara. Si penolong masih keponakan buruh tani yang tersengat pertama.
"Itu orang kesetrum (tersengat) listrik Nduk.. Lho kamu kok disini. Sana ini berbahaya. Silahkan menjauh..! " usir orang itu pada Lily.
Lily menjauh tapi tetap memperhatikan kerumunan warga dan menyimak obrolan mereka. Dari sana ia tahu jika peristiwa itu bermula saat salah satu buruh tani itu mencangkul tanpa ia sadari mencabut kawat pancang listrik yang ternyata ada aliran listriknya. Ia terpental dan terjatuh masih memegang kawat itu seperti lengket di tangan. Salah satu buruh tani yang melihatnya berusaha menolong tapi iapun terpental ditempat yang masih teraliri listrik. Kedua orang itu tersengat listrik. Ternyata kedua orang itu masih saudara. Si penolong masih keponakan buruh tani yang tersengat pertama.
Tangisan keluarga meledak disambut sesenggukan warga yang tidak sampai hati melihat peristiwa itu tanpa bisa berbuat banyak. Salah satu pamong dan pemuda desa berusaha menghubungi pihak PLN untuk melakukan pemadamaman di daerah itu.
Air mata Lily meleleh makin deras mengenang kala itu. Pengalaman traumatis yang membuat ia selalu merinding jika melewati tempat itu.
"Pakde dan Mbah.....semoga engkau tenang di alam sana, diampuni segala dosa dan diterima amal sholehnya" bisik Lily menghibur diri. Ia segera menghapus air matanya dan kembali pulang. Di rumah sudah tersengar suara lantunan nasyid dari Grup nasyid "Debu" yang berjudul Sinta Saja.
"Pakde dan Mbah.....semoga engkau tenang di alam sana, diampuni segala dosa dan diterima amal sholehnya" bisik Lily menghibur diri. Ia segera menghapus air matanya dan kembali pulang. Di rumah sudah tersengar suara lantunan nasyid dari Grup nasyid "Debu" yang berjudul Sinta Saja.
Cintamu... dalam hatiku
Memenuhinya begitu....
........
Makin membuat Lily tertunduk dzikir melalui Senandung Nasyid. Batinnya makin tenang tenggelam dalam senandung nasyid yang diputar pada tape recorder di ruang tamu keluarga. Ia tahu jika itu lagu kesayangan kakak sulungnya ya berbeda selera dengan lagu kesukaan anggota keluarga yang lain. Ada yang suka uyon-uyon (tembang jawa), qosidah dan dangdut melankolis seperti lagu Ida Laila.
Memenuhinya begitu....
........
Makin membuat Lily tertunduk dzikir melalui Senandung Nasyid. Batinnya makin tenang tenggelam dalam senandung nasyid yang diputar pada tape recorder di ruang tamu keluarga. Ia tahu jika itu lagu kesayangan kakak sulungnya ya berbeda selera dengan lagu kesukaan anggota keluarga yang lain. Ada yang suka uyon-uyon (tembang jawa), qosidah dan dangdut melankolis seperti lagu Ida Laila.
Bersambung
Komentar
Posting Komentar