Semburat Cinta Lily (Bagian 4)
Sore makin merajuk menghembuskan semilir angin membelah hamparan sawah dengan aneka palawija. Petani di lembah gunung Lawu tidak menanam tanaman serupa. Mereka menanam sesuai selera dan perhitungan prediksi harga yang bagus saat musim panen kelak. Seperti yang dilakukan Bapak dan Ibu Lily yang menanam seledri karena perhitungannya panen saat banyak orang hajatan hingga permintaan pasar akan bagus dan kesediaan barang terbatas maka harganya kan makin melambung. Hasil penjualannya untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk nyumbang ( menghadiri hajatan dengan membawa barang kebutuhan pokok).
"Ayo Li...bersihkan tangan dan kakimu disini" ajak ibu yang masih membersihkan diri di selokan saluran irigasi yang sengaja dibuat bendungan kecil agar airnya terkumpul seperti kolam untuk memudahkan pengambilan air. Selain itu untuk mencelup untaian seledri siap jual biar makin segar. Maklum tanaman seledri yang sudah dipetik mudah layu.
Segera Lily membereskan perlengkapan dan membersihkan diri sementara ibunya mulai menggendong seledri basah yang di sekat plastik agar tidak mengenai tubuh dan bergegas membawanya ke juragan sayur kampung. Lily mengikutinya dari belakang dengan membawa embor.
"Lily senang tidak, membantu ibu panen?" tanya ibu dalam perjalanan ke rumah juragan
"Senang bu, tapi capek" jawab Lily
"Awalnya ibu juga tidak senang, karena ibu dulu waktu muda tidak mengenal pertanian, maklum nenekmu itu pedagang jajanan olahan sendiri, seperti rengginang dan kembang gula (manisan kelapa). Ibu tidak pernah bercocok tanam"
"Setelah menikah dengan bapakmu ibu dilibatkan di pertanian, apalagi ibu kan tidak selesai menempuh PGA"
"Apa itu PGA bu? Tanya Lily
"PGA itu sekolah untuk calon guru agama...seperti Bu Tita guru SDmu itu..."
"Ibu tidak selesai, kenapa?" tanya lily penasaran
"Saat itu sekolah PGA jauh, harus jalan kaki panas, apalagi jika tidak dapat tumpangan truk, malas.banget. karena teman ibu banyak yang keluar jadi ibu tidak ada teman. Jadi ibu ikut keluar juga"
"Terus bu?"
"Terus.....ibu dinikahkan sama Bapakmu" jawab ibu
"Itu pacarnya ibu?!"
"Pacar? Ibu tidak pacaran tapi ibu dijodohkan.."
"Haaa...ibu dijodohkan? Lalu?"
"Lalu kita sampai di rumah juragan"
"Yah...ibu....!?"
Ibu tersenyum simpul menyadari anak gadisnya yang beranjak remaja penasaran dengan cerita asmara orang tuanya
...........
Bersambung
#30dwc
#30dwcjilid15
#squad2
#day11

Komentar
Posting Komentar