AKU DEPRESI
Aku Depresi
Masih terngiang saat ibuku menemui kepala sekolah awal tahun pelajaran ini. Beliau menyampaikan jika aku tidak berhasil menguasai perasaan depresiku aku diijinkan pindah sekolah atau kembali pada orang tua. apakah aku memang orang depresi?. aku sendiri bingung. Entah mengapa aku merasa pada waktu tertentu aku merasa semua orang melihatku dan mengawasiku dengan saksama. Rasanya aku tak bisa berbuat banyak. takut salah sikap ataupun salah bertindak.
Ya Tuhan.......
apa sebenarnya yang terjadi padaku. Aduuuhhhhh
Siang yang panas ini kuberanikan diri masuk ruang guru di sebelah ruang kelas ku. sekalian ngadem kan ada AC-nya.
"Assalamu'alaikum..." selaku sambil membuka pintu
"wa'alaikum salam...silahkan masuk!" Jawab Bu UUs yang tengah sibuk di depan komputer menghentikan aktifitasnya untuk menghampiriku. Beliau menyiapkan kursi di sebelah komputer tempat beliau beraktifitas.
" Sini... duduk Sini..! ajak Bu Uus.
"Bu...Ibu pernah dengar tentang aku tidak? misalnya dari teman atau dari guru" tanyaku
"Tidak...." jawab Bu Uus mengalun membuatku berani bercerita
"Gini Bu, Saya itu punya riwayat depresi sejak SMP, saya pernah dipertemukan dengan psikolog waktu itu"
"lalu...?" sela Bu Uus
"Saya merasa hingga kini masih depresi"
"depresi...seperti apa yang kamu maksud depresi?" tanya Bu Uus.
"Ya.. gelisah, kacau, merasa diawasi orang sekitar, bingung sendiri dan tidak mau berbuat apa-apa...ya tidak ada semangat begitu" Jawabku
“Bagaimana kamu mengatasinya selama ini?” tanya Bu Uus lebih lanjut
“Saya mendekatkan diri pada Allah, Sholat dan berdzikir tapi hanya sedikit membantu, ibu bilang saya terlalu banyak memikirkan yang tidak-tidak, bapak mendorongku untuk lebih cuek, tapi…”
“Tapi….?” Bu Uus mendorongku memperjelas penjelasanku
‘Tapi gelisahku datang dan pergi” jelasku
“Diawal kau bilang ada yang mengawasimu, bisa kau jelaskan!” permintaan Bu Uus
“Saya merasa diawasi orang sekitar”
“Bagaimana jika yang kau maksud itu kamu alihkan kau merasa diawasi oleh Allah, bukankah demikian akan lebih baik. Sebagai umat yang taat beragama keadaan dimana kau merasa dilihat dan diawasi oleh Allah atas segala sikap dan tindakanmu itu derajat ihsan tinggal kau yakinkan dirimu Allah hadir pada setiap nafas kehidupanmya dan kau melihat –Nya melalui ciptaannya.”
“Iya sih Bu…itu sedikit membuatku lega tapi tentang tulisanku yang terasa aneh bagaimana Bu” lanjutku
“Fiksi itu memang unik, orang terkadang bilang aneh…kan bagus klo begitu namanya juga fiksi” ujar penjela Bu Uus
“Saya sering tidak percaya diri dengan tulisanku”
“Kamu mau membuktikan bahwa kau tidak pantas tidak percaya diri?” tantang Bu Uus
“Bagaimana caranya Bu?”
“ya teruslah menulis, maka itu bukti bahwa kau sangat percaya diri dan kita ikutkan dalam komunitas menulis semoga nanti bisa diterbitkan bersama” Bu Uus memberikan penawaran
“Mau Bu aku mau ikut, pengen banget novelku dicetak dan dibaca orang lain” seruku bersemangat
Serasa mendapat angen segar dan jus dingin di tengah terik siang yang panas. Sedikit bertambah keberanianku mengatasi depresi. Bu Uus mendaftarkan aku di komunitas meulis di media social. Aku benar-benar seperti bermimpi mendapatkan ini. Bahkan kini aku berteman dengan penulis di seluruh pelosok negeri untuk menjuang bersama dalam menggerakkan semangat berliterasi.
Tidak Benar jika aku depresi.
#30dwc
#30dwcjilid15
#30dwcjilid15squad2
#day3

Komentar
Posting Komentar