3 Kata Mulia
3 Kata Mulia
Beberapa bulan terakhir ada keluhan dari teman guru dengan adanya siswa yang enggan mengikuti pelajaran. Ada yang berlama-lama saat di kantin sekolah ataupun saat ijin ke toilet. Mau tidak mau keadaan seperti ini mengganggu. Baik keadaan kelas maupun prestasi dari siswa itu sendiri, bisa tidak mendapat nilai atau sekedar nilai rendah. Ya..itu resiko.
Sebenarnya ada pelajaran berharga di balik peristiwa hubungan guru dan siswa. Tepatnya terkait dengan rejeki dan lahan ibadah. Ada siswa yang ia menunjukkan sikap kacau pada guru tertentu. Ini bisa dimaknai ada sesuatu yang dikehendaki terjadi antara siswa guru sehingga sangat tidak baik jika kacaunya siswa pada jam pelajaran itu dilaporkan ke wali kelas atau guru BK bahkan kepala sekolah. Hendaknya guru tersebut berinteraksi dengan siswa yang mencuri perhatiannya. Nah disini diperlukan kesediaan guru untuk belajar komunikasi terapiotik. Manfaatnya banyak untuk mendidik diantara tugas mengajar guru.
Bila keadaan tidak sesuai yang dikendaki bisa terjadi kesalahpahaman ataupun konflik antara siswa dengan guru. Seperti peristiwa berikut.
Saat bel masuk usai istirahat siang berbunyi masih tampak beberapa siswa tengah asyik menikmati makan siangnya. Seorang guru piket menghampiri dengan suara lantang ingin menyegerakan makan siswa -siswa itu. Seorang siswa yang dikenal kurang tertib sebut saja Agus berada dekat siswa yang sedang makan saat guru piket kembali menegur keras agar segera bergegas. Entah setan apa yang tiba-tiba hinggap pada Agus. Ia langsung berdiri dengan menendang kursi serasa bersumpah serapah. Pedagang di kantin dan beberapa siswa yang masih ada di kantin terkejut bukan kepalang tak menyangka Agus berbuat demikian. Mereka langsung bergegas seolah tak mau terlibat. Tentu saja sang guru Piket syock melihat kelakuan Agus. Guru itu biasa dipanggil Bu Rena.
Keesokan harinya tersebar berita perilaku tidak sopan Agus pada Bu Rena. Ruang Guru jadi gempar serasa menekan Bu Rena seolah sebagai pihak yang dipermalukan. beliau jadi sangat gelisah dan seperti trauma bertemu dengan Agus.
Tanpa direncanakan Agus berkonsultasi ke Guru BK untuk urusan lain dengan temannya yang ternyata teman yang dibela saat makan di kantin. Setelah berdiskusi masalah yang dikonsultasikan Bu Uus Guru BK yang mengasuh Agus Bu Uus menanyakan kabar angun tentang insiden kantin. Teman Agus juga menyayangkan Agus berbuat demikian dan menyarankan Agus minta maaf tapi Agus tidak mau.
Beberapa saat Bu Uus mengarahkan topik pembicaraan dengan berdiskusi tentang tiga kata mulia yaitu maaf, terima kasih dan mohon. Mereka tertarik dan mencoba mempraktekkannya untuk contoh kasus dengan orang tua, guru atau dengan teman. Tiga kata mulia itu adalah tiga kata yang diadopsi dari adab berdoa dimana sebelum berdoa kita membersihkan dosa dan kesalahan kita dulu dengan istighfar dilanjutkan dengan puji pujian sebagai ungkapan syukur seperti dengan membaca subhanallah, alhamdulillah dan allahu akbar atau tahlil dilanjutkan dengan membuat permohonan /doa. Diringkas istighfar-Hamdallah-alluhumma dianalogikan dengan Maaf - Terima kasih -Mohon.
Agus dan temannya manggut-manggut seolah paham dan mengulang tiga kata itu. Seraya berpamitan masuk kelas kembali. Bu Uus mendorong Agus segera menata hati bertemu Bu Rena. Tapi sejauh itu Agus belum siap. Saat berjalan melewati lorong sekolah Agus berpapasan dengan Bu Rena tapi Agus berlalu bergitu saja. Sontak Bu Rena tidak melanjutkan langkahnya dan berbalik menemui Bu Uus dan menyayangkan sikap Agus yang keterlaluan dn meminta bantuan Bu Uus untuk membuat Agus menemuinya.
Sejurus kemudian Bu Uus menjemput Agus untuk segera menemui Bu Rena dengan 3 Kata mulia. Meski belum bisa tulus Bu Uus mendorong Agus melakukannya. Dan Agus terjebak di ruang guru dan harus Menemui Bu Rena sendirian. Saat ia baru saja duduk dang mengatakan kata pertamanya "maaf Bu Rena, Saya khilaf" Bu Rena tersentuh dan terharu dan meneteskan air mata. Ia tidak menyangka Agus mengatakan maaf. Kata kedua "Terima kasih Teguranyya Bu" makin membuat Bu Rena luluh. Dan makin luluh saat Agus mengatakan "Mohon bimbingannya Bu agar saya lebih baik lagi"
Bu Rena menyampaikan apresiasi positifnya dan suprisnya atas permintaan maaf Agus. Sementara ketika di kroscek ke Agus, ia justru heran "kok Bu Rena malah menangis?"
Agus menyadari tiga kata itu terbukti "magic" dan ia malu telah berburuk sangka pada Bu Rena.
Agus menyadari tiga kata itu terbukti "magic" dan ia malu telah berburuk sangka pada Bu Rena.
Nah pelajaran yang bisa diambil adalah saat kita tengah berkonflik dengan orang menggunakan tiga kata mulia "maaf-terima kasih-tolong" akan mendudukkan si pengguna pada kemuliaan di mata lawan bicaranya apalagi di hadapan Allah karena ia telah membiasakan diri dalam analogi adap berdoa.
Nah..yuk kita latih penggunaannya dn rasakan kekuatan dan kedahsyatannya dalam merapikan kembali hubungan yang kusut antar sesama manusia.
#30dwc
#30dwcjilid15
#day2
#30dwcjilid15squad2
#30dwcjilid15
#day2
#30dwcjilid15squad2

Komentar
Posting Komentar